TUGAS

MANAJEMEN PERUBAHAN






“PERAN CARLOS GHOSN SEBAGAI CEO DALAM MEMBAWA PERUBAHAN PADA NISSAN MOTOR COMPANY”






BAB I

PENDAHULUAN


A.Latar Belakang


Nissan Motor Company Ltd adalah sebuah produsen otomotif multinasional asal Jepang. Merek ini merupakan divisi utama dari Grup Nissan. Nissan dulunya dipasarkan dengan merek Datsun sampai tahun 1983. Kantor utamanya terletak di wilayah Ginza dari Chūō-ku, Tokyo tetapi Nissan merencanakan akan memindahkan kantor utama mereka ke Yokohama, Kanagawa pada 2010, dimana konstruksi sudah dimulai pada 2007. Pada tahun 2011, mereka resmi memindahkan kantor pusat ke Nishi-ku, Yokohama.

Nissan adalah produsen mobil terbesar keenam di dunia, di belakang Toyota, General Motors, Volkswagen AG, Hyundai Motor Group, dan Ford pada tahun 2010. Pada tahun 1999, Nissan membentuk aliansi dengan Renault S.A. dari Perancis, dengan Renault memegang 43,4% saham Nissan sedangkan Nissan memegang 15% saham Renault pada tahun 2008. Bersama dengan jajaran produk biasanya, Nissan juga memasarkan merek mobil mewah yang dinamakan Infiniti.

Perusahaan otomotif Nissan pernah berada di ambang kebangkrutan di akhir dekade 90-an. Nisan adalah contoh perusahaan yang telah berkali-kali melakukan restrukturisasi dengan pimpinan dari internal perusahaan. Tetapi banyaknya usaha tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan sampai seorang Manajer prancis kelahiran brazil, Carlos Ghosn, mengambil alih kepemimpinan di Perusahaan tersebut. Ghosn dengan program Turnaround-nya berhasil mengubah haluan Nissan menjadi sebuah perusahaan yang menghasilkan keuntungan dan kembali diperhitungkan dalam kompetisi industri mobil dunia.

Nissan Motor Company Ltd. adalah perusahaan produsen mobil multinasional yang berpusat di Jepang.

B. Perumusan Masalah

            1. Bagaimana strategi yang dilakukan Carlos Ghosn sebagai CEO dalam mengatasi krisis di Nissan Motor Company Ltd?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui strategi yang dilakukan Carlos Ghosn sebagai CEO dalam mengatasi krisis di Nissan Motor Company Ltd.





BAB II

ISI

Ada tiga faktor yang mempengaruhi penjualan Nissan menurun yaitu:

1.    Tidak dapat bersaing {inovasi produk dan keunggulan SDM yang dimiliki} dalam persaingan yang ketat.

2.    Kecilnya pangsa pasar yang dimasuki Nissan.

3.    Inefisiensi sehingga mengakibatkan harga produk tidak dapat bersaing dengan pesaing pada satu segmentasi pasar.

Dalam mendorong pertumbuhan penjualan Nissan, Ghosn sebagai seorang dengan need  for Power tinggi menggambil langkah-langkah sebagai berikut :


1.     Ghosn membangun kepercayaan bangkit untuk berubah pada setiap pekerja di saat darurat itu.


Laporan-laporan menunjukkan fakta bahwa Nissan telah benar-benar berada di puncak kegagalan. Tidak ada jalan lain lagi bagi Nissan selain bangkit untuk berubah. Perubahan yang dilakukan harus berdasarkan visi ke depan untuk menembus pasar global masa depan, serta penerapan yang tegas atas strategi-strategi perusahaan yang telah disusun. Mempengaruhi Manajer dan Karyawan dengan gaya kepemimpinan Transformasional.

Carlos Gshon menggunakan pidato-pidato yaang emosional ketika mempresentasikan rencananya untuk menghidupkan perusahaan tsb dalam mengkomunikasikan visinya. “ketika para pemimpin merasa bersemangat, antusias, dan aktif, mereka lebih mungkin untuk memberi energi pada bawahan-bawahan mereka dan menyampaikan rasa efektivitas,kompetensi, optimisme, dan kegembiraan” {Stephen P.Robbins}. pidato yang dilakukan merupakan strategi dalam pembentukkan persepsi diri kepada orang lain adalah untuk proses dimana Gshon menginterprestasikan kesan-kesan sensoris guna mempengaruhi lingkungan organisasi.

Dengan persepsi tehadap Gshon yang antusias tersebut terjadi peningakatan komitmen karyawan untuk dapat mencapai tujuan-tujuan organisasi. Penigkatan komitmen afektif tersebut memiliki pengaruh terhadap perasaan emosional kepada organisasi dan keyakinan dalam nilai-nilainya serta mempunyai implikasi yang nyata terhadap keputusan-keputusan manajerial yang diambil perusahaan. Para manajer termotivasi untuk lebih melihat hal-hal yang lebih efektif untuk dijalankan ketika perubahan-perubahan kondisi lingkungan perusahaan terjadi dengan mengevaluasi kerugian sejak awal.




2.    Ghosn menyusun dua strategi dalam suatu rencana yang dia sebut Nissan Recovery Plan.


Strategi pertama yaitu segera melakukan revitalisasi produk-produk baru Nissan. Proses pengembangan produk-produk baru harus dipercepat. Untuk menjalankan strategi itu, Nissan merekrut Shiro Nakamura, desainer mobil ternama di Jepang. Di sisi lain, strategi kedua yaitu melakukan efisiensi biaya sebesar-besarnya. Menutup pabrik-pabrik operasional yang dianggap kurang begitu mendesak, dan pengalihan operasional untuk lebih terfokus pada operasional sentral.

Strategi dalam memenuhi tujuan kinerja yang baru, maka Gshon melakukan Efiiensi biaya-biaya dengan cara:

a.    Memberhentikan 2O.OOO tenaga kerja

b.    menutup lima pabrik.

c.    Mengurangi jumlah supplier lebih dari separuhnya.

d.    Memotong biaya-biaya yang timbul akibat cross-holding sebesar U$ 4 billions

e.    Menurunkan biaya produksi sebesar 20% dalam 18 bulan.


Langkah Gshon ini merupakan strategi didalam terjadinya perubahan pasar di dunia otomotif. Dengan melakukan efisiensi diharapkan harga Nissan menjadi lebih kompetitif dengan pesaing sejenis



3.
Ghosn membentuk tim inti yang langsung dipimpin olehnya.

Tugas tim inti sangat jelas dan tegas, yaitu memastikan bahwa Recovery Plan dapat diimplementasikan secara optimal. Bagaimana pun sempurnanya rencana yang disusun harus disertai implementasi yang tegas. Di sini letak vital peran Ghosn untuk kembali mengangkat kebesaran Nissan di pasar otomotif global.


Ghosn Membentuk tim lintas fungsi yang terdiri dari para manajer menengah untuk menghasilkan ide-ide memperbaiki bisnis, dan mengkomunikasikan perlunya perubahan dalam perusahaan.

Ghosn Membentuk 10 Team CFT di Nissan

1. Business Development

2. Purchasing

3. Manufacturing and Logistik

4. Research and Development

5. Sales Marketing

6. General and Administrative

7. Finance and Cost

8. Phase Out Products and Part

9. Compelexity management

10. Organizational Structure

Ghosn mengidentifikasikan divisi-divisi yang sudah tidak efisien, Ghosn mengidentifikasikan potential leaders di masing2 divisi kemudian memberikan mereka bonus kompensasi. Bonus diberikan kepada team yang paling baik dalam menhidupkan kembali divisi tersebut. Dia juga memberikan kewenangan kepada manajemen dalam memotong jumlah suppliers, dengan cara ini Nissan mengubah budaya manajemen dari sekedar penerima instruksi menjadi entrepreneurs on their own rights. Manajemen yang akan melakukan efisiensi sendiri di dalam unit divisi masing-masing, termasuk PHK dll.

Dalam menciptakan kondisi lingkungan kerja yang kompetitif, Gshon menerapkan beberapa cara dengan membuat karyawan yang dimiliki dapat meningkatkan kinerja nya dengan efektif dan maksimal. Yaitu dengan motivasi. Beberapa strategi yang dilakukan Gshon agar dalam mempengaruhi karyawan terlihat dengan adanya pemberian umpan balik dari perusahaan kepada karyawan. Beberapa teori yang mendasari strategi-strategi motivasi ini terlihat pada teori Kebutuhan McClelland yang Berfokus pada tiga kebutuhan, yaitu:

1.    Kebutuhan Pencapaian : Dorongan untuk melebihi, mencapai standart-standart, berusaha keras untuk berhasil. Individu dengan kebutuhan pencapaian yang tinggi tertarik dengan seberapa baik mereka bekerja secara pribadi dan tidak dengan mempengaruhi individu lain untuk bekerja dengan baik.

-          Kebutuhan ini diterapkan pada karyawan engineering sehingga mampu menghasilkan produk-produk dengan inovasi yang tinggi.

2.    Kebutuhan Kekuatan : Kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya. Individu dengan keinginan berpengaruh/mengndalikan individu lain, menyukai tanggung jawab dan ditempatkan di situasi yang kompetitif.

-          Kebutuhan ini diterapkan pada bagian menajerial, sehimgga para manajer memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi terhadap organisasi.

3.    Kebutuhan Hubungan : Keinginan untuk menjalin suatu hubungan antar personal yang ramah dan akrab. Menyukai situasi yang kooperatif.

-          Kebutuhan ini diterapkan pada karyawan tingkat bawah, sehingga terjadi lingkungan kerja yang nyaman.



BAB III

PENUTUP


Dalam mendorong pertumbuhan penjualan Nissan, Ghosn sebagai seorang dengan need  for Power tinggi menggambil langkah-langkah sebagai berikut :


1.     Ghosn membangun kepercayaan bangkit untuk berubah pada setiap pekerja di saat darurat itu.

2.    Ghosn menyusun dua strategi dalam suatu rencana yang dia sebut Nissan Recovery Plan.

3.    Ghosn membentuk tim inti yang langsung dipimpin olehnya.


 Daftar Pustaka





P.Robbins,Stephen.,Timothy A.Judge.(2007).Perilaku Organisasi,Jakarta:Salemba Empat.